Sabtu, 27 Juni 2015

Sisi Nyata Sebuah Cerita ( Cerpen Fiksi ) - Awesome Journey

Sisi Nyata Sebuah Cerita
Oleh Ibnu Wahyudinnur

“Waktu berjalan begitu cepat.” Gumamku seraya menikmati sunrise dan secangkir kopi .
 Sekarang adalah hari kelima sekaligus hari terakhirku berlibur di Pulau terbesar keenam di dunia ini. Aku tak pernah menyangka bisa menginjakkan kaki di sini. Tempat yang punya berjuta kekayaan alam, budaya serta adat yang begitu kental membuat semuanya menjadi pengalaman yang paling berkesan. Ini adalah Awesome Journey pertamaku. 
***
“Ma, sudah bangun belum ? Jam 6 nanti kita sudah berangkat .” tanyaku pada mama
“Sudah, tunggu aja mama lagi mandi.” Sahutnya
“Iya, ibnu tunggu di kamar ya, ma.” Ucapku

Aku bergegas kembali menuju kamar mengganti piyama dan celana boxer hitam dengan baju kaos lengan pendek berwarna biru muda dan celana jeans abu-abu, tak lupa aku mengenakan sepatu kets putih dan topi .  Sebuah ransel hitam yang sudah penuh terisi dengan perlengkapan untuk keperluan perjalanan terakhir aku dan mama di sini. Setelah kurasa lengkap dan tak ada yang ketinggalan, aku langsung menuju lobi.
Sudah 15 menit lebih aku menunggu mama di lobi penginapan tapi mama tak kunjung muncul. “Lebih baik aku kembali ke kamar mama.” Kata ku dalam hati.
***
“Mama.. mama..!!” panggilku.
“Pintunya gak dikunci” batin ku ketika memegang gagang pintu.
“Iya, sebentar.” Jawab mama.
Saat aku membuka pintu aku terkejut.
“Busyettt!!!” kataku spontan.
“Kenapa kamu, nu ?” tanya mama.
“Kenapa mama dandannya kaya gini ?” tanyaku balik.
“Mama memang sudah tua, tapi mama juga gaul.” Jawab mamaku.
“Bukan itu, masalahnya ma. Coba lihat diri mama, kita itu mau liburan bukan mau pesta.” Sahutku tak mau kalah.
“Hari inikan hari terakhir liburan kita, jadi kita harus tampil beda dari biasanya.” Ucap mama.
“Itu menurut mama. Sini Ibnu bantu buat perbaikin penampilan mama yang nora ini.” Ledek ku.
“Awas ya kamu!! Mama bakalan potong uang jajan bulanan kamu!!” jawab mama dengan sorot mata yang tajam.
“Cuman bercanda kali, ma.” Sahutku singkat.
***
Sekarang aku dan mama ku berangkat menuju sebuah danau vulkanik terbesar, yaitu Danau Toba. Walaupun perjalanan dari Medan ke Danau Toba cukup jauh, kami tetap menikmatinya. Kurang lebih 4 jam perjalanan, kami akhirnya sampai tujuan.
Danau Toba, mungkin nama tempat itu sudah tak begitu asing di telinga kita. Lewat sebuah cerita rakyat masyarakat setempat yang berjudul sama, diceritakan secara jelas bagaimana danau besar dan sebuah Pulau yang bernama Samosir itu terbentuk. Ya, itulah alasanku ingin berlibur di tempat ini. Aku ingin melihat lebih dekat tempat itu dan sekarang itu terwujud.
***
“Ternyata kota Parapat bagus juga.” Ucap mama, kagum.
“Ya iyalah ma, orang ini pusat kota di tepian Danau Toba.” Celetuk ku.
Mama hanya diam saja, mungkin ia masih menikmati pemandangan danau yang berwarna biru gelap ini. Perjalanan ini tak sia-sia, ini bagian yang paling ku tunggu-tunggu dari liburan singkat ini.
“Nu, kita cari tempat penginapan dulu.” Ajak mama yang membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya ma. Sekalian makan siang juga ya, lapar nih.” Jawab ku dan dibalas senyum tipis oleh mama.
***
“Sekarang mama udah siap nih. Yuk berangkat!!”
“Hmm.. Oke!!” jawabku setelah aku mengepak perlengkapan buat travelling ini.
Aku dan mama langsung berangkat ke dermaga. Rencananya kami akan pergi ke pulau Samosir naik kapal fery penyebrangan . Ketika sampai, banyak juga wisatawan yang akan menyebrang ke sana.
“Naik ke tingkat dua aja, anginnya lebih berasa.” Ajak ku pada mama.
“Gak usah, mama di bawah aja adem gak panas.” Jawab mama.
“Oh ya udah.”
Setelah 30 menit perjalanan, kita sudah sampai di Pulau Samosir. Ini pertama kalinya aku menginjak Pulau Samosir. Saat melangkah memasuki desa, kami di sambut sebuah gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Tomok” dan terdapat semboyan khas orang batak “Horas”.
Setelah memasuki gerbang desa tersebut, kita diajak untuk melihat tarian tradisional orang batak, yaitu Tari Sigale-Gale. Sisi unik tarian ini adalah dimana si penari tersebut bukanlah seorang manusia melainkan seorang boneka yang terbuat dari kayu dan digerakkan oleh manusia. Ketika musik berbunyi, boneka tersebut akan bergerak dan para penonton akan menari mengelilingi si penari dimana penonton akan menyelipkan uang di kantong baju si penari tersebut.
***
Pasar, tempat favorit setiap orang yang mempunyai uang apalagi yang punya hobi belanja kaya mama ku ini. Ada barang yang ia suka jika harganya mahal, ia akan menggunakan jurus andalannya yaitu “nawar”. “Ma, aku cari oleh-oleh buat temen-temen dulu ya.” Kata ku.
“Ya udah, nanti tunggu aja di dermaga ya.” Jawab mama yang masih sibuk dengan aksi tawa-menawarnya.
Aku melangkahkan kaki meninggalkan mama. Melangkah tanpa arah sembari melihat interaksi antara para penjual dan pembeli, akupun sempat mengabadikannya lewat kamera ponsel ku.Setelah berjalan-jalan selama 10 menit, akhirnya aku menemukan souvenir yang unik untuk oleh-oleh. Souvenir itu adalah gantungan kunci berbentuk cangkang keong bekas yang dihias sedemikian rupa dan disana tertulis “Lake Toba” yang dihiasi beberapa bintang laut kecil di punggung cangkang. Aku pun membelinya secukupnya lalu membayarnya di kasir. “Karna ade beli banyak, kita kasih sedikit diskon ya.” Ucap kasir dengan logat batak yang khas.
“Hah beneran, mba ? Makasih ya.” Sahutku senang.
“Iya, terima kasih telah berkunjung ke sini. Selamat menikmati liburannya.” Ucap kasir itu tersenyum.
“Oh ya, terima kasih ya, mba.” Jawabku sambil menyambut kantong plastik berisi oleh-oleh yang aku beli
“Ternyata orang Batak itu ramah dan baik juga.” Ucapku dalam hati.
***
 Sebentar lagi kapal fery akan kembali, tapi mama masih belum muncul di dermaga.
“Hampir saja mama ketinggalan.” Ucap ku ketika mama memasuki kapal fery yang sudah melepaskan tali ikatannya dari dermaga.
“Untung aja mama ambil jurus langkah kaki seribu.” Celetuk mama yang masih memegang beberapa belanjaannya.
“Hahahahaha....” suara tawa muncul dari kami.
***
Hari sudah semakin sore sebentar lagi matahari akan terbenam di ufuk barat. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Sebentar lagi aku dan mama akan menyaksikan sunset terindah di sini ditemani dua cangkir teh hangat dan sepiring roti tawar  selai nanas favoritku tepat di balkon kamarku.
“Besok kita sudah harus pulang ke Kalimantan. Kamu sudah beli oleh-olehkan buat temen-temen kamu ? tanya mama sambil menyuruput tehnya.
“Ya pasti sudah dong!! Nah itu sudah mulai sunsetnya.” Jawabku.
Langit berwarna jingga kekuningan mulai tampak menghiasi langit hari itu, awan-awan yang menggumpal seperti kapas perlahan-lahan mulai lenyap di balik bukit yang menjulang tinggi. Air danau itu terlihat seperti sebuah cermin alam. Semakin lama sunset itu semakin lenyap hanya kegelapan yang tersisa di langit itu dan suara adzan Maghrib mulai berkumandang.
Besok aku dan mama akan kembali ke tempat kelahiranku, pulau Kalimantan. Selamat tinggal Danau Toba. Suatu saat aku akan kembali untuk menikmati hal yang sama untuk kedua kalinya. Itulah pemandangan terakhir yang aku nikmati di hari terakhirku di sini. Lalu aku bergegas mengambil air wudhu dan pergi ke mushola terdekat.


T A M A T


Note :  Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar