Sisi
Nyata Sebuah Cerita
Oleh Ibnu Wahyudinnur
“Waktu berjalan
begitu cepat.” Gumamku seraya menikmati sunrise dan secangkir kopi .
Sekarang adalah hari kelima sekaligus hari
terakhirku berlibur di Pulau terbesar keenam di dunia ini. Aku tak pernah
menyangka bisa menginjakkan kaki di sini. Tempat yang punya berjuta kekayaan
alam, budaya serta adat yang begitu kental membuat semuanya menjadi pengalaman
yang paling berkesan. Ini adalah Awesome
Journey pertamaku.
***
“Ma, sudah bangun
belum ? Jam 6 nanti kita sudah berangkat .” tanyaku pada mama
“Sudah, tunggu aja
mama lagi mandi.” Sahutnya
“Iya, ibnu tunggu di kamar
ya, ma.” Ucapku
Aku bergegas kembali
menuju kamar mengganti piyama dan celana boxer hitam dengan baju kaos lengan
pendek berwarna biru muda dan celana jeans abu-abu, tak lupa aku mengenakan
sepatu kets putih dan topi . Sebuah
ransel hitam yang sudah penuh terisi dengan perlengkapan untuk keperluan
perjalanan terakhir aku dan mama di sini. Setelah kurasa lengkap dan tak ada
yang ketinggalan, aku langsung menuju lobi.
Sudah 15 menit lebih
aku menunggu mama di lobi penginapan tapi mama tak kunjung muncul. “Lebih baik
aku kembali ke kamar mama.” Kata ku dalam hati.
***
“Mama.. mama..!!”
panggilku.
“Pintunya gak
dikunci” batin ku ketika memegang gagang pintu.
“Iya, sebentar.”
Jawab mama.
Saat aku membuka
pintu aku terkejut.
“Busyettt!!!” kataku
spontan.
“Kenapa kamu, nu ?”
tanya mama.
“Kenapa mama
dandannya kaya gini ?” tanyaku balik.
“Mama memang sudah
tua, tapi mama juga gaul.” Jawab mamaku.
“Bukan itu,
masalahnya ma. Coba lihat diri mama, kita itu mau liburan bukan mau pesta.”
Sahutku tak mau kalah.
“Hari inikan hari
terakhir liburan kita, jadi kita harus tampil beda dari biasanya.” Ucap mama.
“Itu menurut mama.
Sini Ibnu bantu buat perbaikin penampilan mama yang nora ini.” Ledek ku.
“Awas ya kamu!! Mama
bakalan potong uang jajan bulanan kamu!!” jawab mama dengan sorot mata yang
tajam.
“Cuman bercanda kali,
ma.” Sahutku singkat.
***
Sekarang aku dan mama
ku berangkat menuju sebuah danau vulkanik terbesar, yaitu Danau Toba. Walaupun
perjalanan dari Medan ke Danau Toba cukup jauh, kami tetap menikmatinya. Kurang
lebih 4 jam perjalanan, kami akhirnya sampai tujuan.
Danau Toba, mungkin
nama tempat itu sudah tak begitu asing di telinga kita. Lewat sebuah cerita
rakyat masyarakat setempat yang berjudul sama, diceritakan secara jelas
bagaimana danau besar dan sebuah Pulau yang bernama Samosir itu terbentuk. Ya,
itulah alasanku ingin berlibur di tempat ini. Aku ingin melihat lebih dekat
tempat itu dan sekarang itu terwujud.
***
“Ternyata kota
Parapat bagus juga.” Ucap mama, kagum.
“Ya iyalah ma, orang
ini pusat kota di tepian Danau Toba.” Celetuk ku.
Mama hanya diam saja,
mungkin ia masih menikmati pemandangan danau yang berwarna biru gelap ini.
Perjalanan ini tak sia-sia, ini bagian yang paling ku tunggu-tunggu dari
liburan singkat ini.
“Nu, kita cari tempat
penginapan dulu.” Ajak mama yang membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya ma. Sekalian
makan siang juga ya, lapar nih.” Jawab ku dan dibalas senyum tipis oleh mama.
***
“Sekarang mama udah
siap nih. Yuk berangkat!!”
“Hmm.. Oke!!” jawabku
setelah aku mengepak perlengkapan buat travelling ini.
Aku dan mama langsung
berangkat ke dermaga. Rencananya kami akan pergi ke pulau Samosir naik kapal
fery penyebrangan . Ketika sampai, banyak juga wisatawan yang akan menyebrang
ke sana.
“Naik ke tingkat dua
aja, anginnya lebih berasa.” Ajak ku pada mama.
“Gak usah, mama di
bawah aja adem gak panas.” Jawab mama.
“Oh ya udah.”
Setelah 30 menit
perjalanan, kita sudah sampai di Pulau Samosir. Ini pertama kalinya aku
menginjak Pulau Samosir. Saat melangkah memasuki desa, kami di sambut sebuah
gerbang bertuliskan “Selamat Datang di
Tomok” dan terdapat semboyan khas orang batak “Horas”.
Setelah memasuki
gerbang desa tersebut, kita diajak untuk melihat tarian tradisional orang
batak, yaitu Tari Sigale-Gale. Sisi unik tarian ini adalah dimana si penari
tersebut bukanlah seorang manusia melainkan seorang boneka yang terbuat dari
kayu dan digerakkan oleh manusia. Ketika musik berbunyi, boneka tersebut akan
bergerak dan para penonton akan menari mengelilingi si penari dimana penonton
akan menyelipkan uang di kantong baju si penari tersebut.
***
Pasar, tempat favorit
setiap orang yang mempunyai uang apalagi yang punya hobi belanja kaya mama ku
ini. Ada barang yang ia suka jika harganya mahal, ia akan menggunakan jurus
andalannya yaitu “nawar”. “Ma, aku cari oleh-oleh buat temen-temen dulu ya.” Kata
ku.
“Ya udah, nanti
tunggu aja di dermaga ya.” Jawab mama yang masih sibuk dengan aksi
tawa-menawarnya.
Aku melangkahkan kaki
meninggalkan mama. Melangkah tanpa arah sembari melihat interaksi antara para
penjual dan pembeli, akupun sempat mengabadikannya lewat kamera ponsel ku.Setelah
berjalan-jalan selama 10 menit, akhirnya aku menemukan souvenir yang unik untuk
oleh-oleh. Souvenir itu adalah gantungan kunci berbentuk cangkang keong bekas yang
dihias sedemikian rupa dan disana tertulis “Lake Toba” yang dihiasi beberapa
bintang laut kecil di punggung cangkang. Aku pun membelinya secukupnya lalu
membayarnya di kasir. “Karna ade beli banyak, kita kasih sedikit diskon ya.” Ucap
kasir dengan logat batak yang khas.
“Hah beneran, mba ?
Makasih ya.” Sahutku senang.
“Iya, terima kasih
telah berkunjung ke sini. Selamat menikmati liburannya.” Ucap kasir itu
tersenyum.
“Oh ya, terima kasih
ya, mba.” Jawabku sambil menyambut kantong plastik berisi oleh-oleh yang aku
beli
“Ternyata orang Batak
itu ramah dan baik juga.” Ucapku dalam hati.
***
Sebentar lagi kapal fery akan kembali, tapi
mama masih belum muncul di dermaga.
“Hampir saja mama
ketinggalan.” Ucap ku ketika mama memasuki kapal fery yang sudah melepaskan
tali ikatannya dari dermaga.
“Untung aja mama
ambil jurus langkah kaki seribu.” Celetuk mama yang masih memegang beberapa
belanjaannya.
“Hahahahaha....”
suara tawa muncul dari kami.
***
Hari sudah semakin
sore sebentar lagi matahari akan terbenam di ufuk barat. Tak terasa waktu berjalan
begitu cepat. Sebentar lagi aku dan mama akan menyaksikan sunset terindah di
sini ditemani dua cangkir teh hangat dan sepiring roti tawar selai nanas favoritku tepat di balkon
kamarku.
“Besok kita sudah
harus pulang ke Kalimantan. Kamu sudah beli oleh-olehkan buat temen-temen kamu
? tanya mama sambil menyuruput tehnya.
“Ya pasti sudah
dong!! Nah itu sudah mulai sunsetnya.” Jawabku.
Langit berwarna jingga
kekuningan mulai tampak menghiasi langit hari itu, awan-awan yang menggumpal
seperti kapas perlahan-lahan mulai lenyap di balik bukit yang menjulang tinggi.
Air danau itu terlihat seperti sebuah cermin alam. Semakin lama sunset itu
semakin lenyap hanya kegelapan yang tersisa di langit itu dan suara adzan
Maghrib mulai berkumandang.
Besok aku dan mama
akan kembali ke tempat kelahiranku, pulau Kalimantan. Selamat tinggal Danau
Toba. Suatu saat aku akan kembali untuk menikmati hal yang sama untuk kedua
kalinya. Itulah pemandangan terakhir yang aku nikmati di hari terakhirku di
sini. Lalu aku bergegas mengambil air wudhu dan pergi ke mushola terdekat.
T A M A T
Note : Blog post ini dibuat
dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey”
Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar